Berdoalah PadaKu maka akan Aku kabulkan" itulah yang menjadi firman dan juga janji Allah kepada hamba-hambaNya yang meminta kepadaNya. Sebagai hambaNya, mengingat firman serta janji tersebut tentunya membuat kita tak hentinya meminta serta berharap kepada Allah. Bahkan Allah sendiri merasa senang ketika hambanya banyak meminta kepadaNya, "Mintalah kepada Allah akan kemurahanNya, karena
Akupun menyadari bahwa semakin kita menjalani perintahNya, maka Allah pun akan memberikan segalanya bagi kita. Didalam Alquran Allah sering mengatakan "Berdoalah, maka akan aku kabulkan" dengan penuh keyakinan kalau kita yakin akan kuasa Allah swt. In shaa Allah pasti terjawabkan. Kun fa Yakun kata Allah, maka jadilah ..!
Makasupaya doa lekas dikabulkan, jauhilah semua perkara yang haram dan tidak disukai oleh Allah SWT. 10. Bertobat. Jika seseorang telah melakukan perbuatan keji, maka diwajibkan untuk bertaubat dan menyesali segala perbuatannya agar doa-doa yang ia panjatkan dapat lebih mudah dikabulkan oleh Allah.
Padahakikatnya -sebagaimana ayat diatas "Berdoalah kepadaKu, niscaya akan aku kabulkan"- adalah sebuah janji yang mutlak tidak mungkin diingkari oleh Allah Swt. karena sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (QS. Ra'd: 31). namun Aku tahan doamu itu, maka inilah pahala sebagai pengganti doamu itu". Orang yang berdoa itu terus
Akantetapi, ada satu hal yang perlu diketahui bahwa doa yang kita panjatkan sejatinya dapat ditunda dan digantikan dengan sesuatu yang lain yang menurut Allah SWT jauh lebih baik dari apa yang diminta. "Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku." (Maryam : 48). 6.
3 Yakin akan dipenuhi. Di dalam berdoa kita harus yakin dan berprasangka baik kepada Allah, seperti hadis berikut ini : "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman : Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apa bila ia berdoa kepadaKu". Waktu yang paling baik untuk berdoa. 1. Antara azan dan Iqamat. 2.
. Muslimahdaily - Sebagai seorang hamba, kita diperintahkan Allah untuk selalu berdoa padanya. Akan tetapi bukan berarti Allah membutuhkan doa-doa kita, tetapi doa adalah salah satu ibadah seorang hamba pada Tuhannya. Doa merupakan suatu bentuk pengakuan akan kerendahan, kelemahan dan kebutuhannya pada Allah. Dengan berdoa ia akan merasa dan mengaku sebagai hamba yang lemah yang tiada daya dan upaya tanpa pertolongan dari Allah. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” Qs. Ghafir60. Begitulah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa, maka ia akan mengabulkan doa tersebut. Penting untuk diingat bahwa kita harus berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa kita. Keyakinan akan dikabulkannya doa ini penting dan menjadi penanda seberapa besar kepercayaan seorang hamba kepada Tuhannya. Hanya saja, kita harus memahami bahwa Allah memiliki banyak cara untuk mengabulkan doa. Bisa jadi doa dikabulkan sesuai dengan permintaan persis, namun bisa jadi juga sebaliknya. Seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Baijuri dalam Kitab Tuhfatul Murid ala Jauhararit Tauhid bahwa terdapat tiga macam cara Allah mengabulkan permintaan hamba-Nya. Berikut penjelasan yang dilansir dari laman Nu Online Doa yang dikabulkan segera sesuai dengan permintaan Ada kondisi dimana kita meminta sesuatu pada Allah, kemudian pada saat itu juga Dia segera mengabulkan doanya. Jika seseorang sedang sakit dan segera meminta kesembuhan, maka Allah berikan kesembuhan padanya sesegera mungkin. Saat kamu meminta dilunasi hutangnya, kemudian Allah segera kirim bantuan dari arah yang tak terduga. Saat itulah Allah telah mengabulkan doamu. Serta berbagai kondisi lainnya yang mungkin pernah kamu alami sendiri. Intinya adalah apa yang diberikan Allah sama persis dengan apa yang diminta sang hamba. Doa yang dikabulkan sesuai permintaan namun tidak segera Kadangkala Allah menunda pemberian dan pengabulan permintaan hamba-Nya karena ada kemaslahatan dan hikmah tertentu yang mungkin hanya Allah saja yang tahu. Penundaan terkabulnya doa ini bukan karena Allah enggan untuk mengabulkan doamu, tetapi Allah lebih mengetahui kapan waktu yang tepat untukmu. Contohnya, saat seorang hamba meminta dan berdoa kepada Allah untuk bisa menunaikan haji pada tahun ini namun Allah belum mengabulkannya dan ia pada akhirnya tidak bisa berangkat. Mungkin hamba itu akan merasa kecewa, tetapi ternyata di saat yang sama sang ibu sakit berat dan akhirnya meninggal dunia. Allah ingin ia tetap berada di sisi sang ibu untuk berbakti kepadanya, maka Allah menunda perjalanannya hajinya. Setelah selesai mengurus sang ibu, barulah Allah memberikan rezeki di tahun berikutnya untuk ia bisa pergi haji. Doa yang dikabulkan dalam bentuk berbeda Seringkali dalam hidup mungkin kita mendapatkan apa yang sebenarnya tak kita inginkan atau butuhkan. Tetapi kembali lagi pada konsep pertama, bahwa Allah adalah Tuhan yang mengetahui kebutuhan kita yang sebenarnya, yang terbaik untuk hamba-Nya. Mungkin saja yang kita minta sat itu sesungguhnya tak memiliki manfaat sama sekali, sedangkan apa yang diberikan Allah ada banyak manfaat dan hikmah yang banyak untuk dia. Atau, apa yang kita minta ada manfaatnya, tetapi yang diberikan Allah jauh lebih manfaat dan maslahat. Saat seorang pelajar sangat ingin meneruskan pendidikannya ke sebuah perguruan tinggi favorit di Indonesia, namun ia terbentur dengan biaya. Akhirnya ia berdoa kepada Allah untuk bisa mendapatkan beasiswa. Namun, pada akhirnya Allah tak memberikan beasiswa untuknya. Tetapi Allah berikan pekerjaan yang baik, sehingga dari hasil gaji itu ia dapat membiayai kuliahnya sendiri. Mungkin menurut Allah jalan itu adalah yang terbaik untuknya. Pada akhirnya kita harus selalu percaya bahwa semua doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah. Tentunya dengan cara dan waktu yang Allah ridhoi. Tentu jika sudah begitu pasti akan ada banyak kebaikan di dalamnya. Wallahu a'lam.
Doa merupakan media komunikasi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Melalui doa seluruh keluh kesah dan harapan manusia diutarakan. Doa sekaligus menunjukan ketundukkan dan kepatuhan seorang hamba terhadap Sang Maha Kuasa. Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan,” Surat Al-Ghafir ayat 60.Pada hakikatnya berdoa bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Akan tetapi, alangkah baiknya doa dilakukan pada waktu-waktu yang disunnahkan untuk satunya adalah berdoa setelah mengerjakan shalat lima waktu dan shalat sunnah karena doa termasuk bagian dari ibadah, maka ada beberapa hal yang disunnahkan pada saat Abdul Qadir Al-Jilani dalam Ghunyatul Thalibin menjelaskanأن يمد يديه ويحمد الله تعالى ويصلى على النبي صلى الله عليه وسلم ثم يسأله الله حاجته ولا ينظر إلى السماء في حاله دعائه، وإذا فرغ يديه مسح يديه على وجهه، لما روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال سلوا الله ببطون أكفكمArtinya, “Dianjurkan pada saat berdoa membentangkan kedua tangan, mengawalinya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, kemudian baru setelah itu mengutarakan permintaan dan permohonan. Jangan menghadap langit pada saat berdoa. Ketika selesai berdoa usaplah kedua tangan ke wajah. Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah berkata, Mintalah kepada Allah dengan batin telapak tangan.’”Dari penjelasan Syekh Abdul Qadir di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat berdoaPertama, membentangkan kedua telepak tangan pada saat berdoa, seperti orang yang sedang memohon dan awali doa dengan pujian terhadap Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pujian itu sebagai ungkapan bahwa manusia sesungguhnya lemah dan tidak memiliki daya dan kuasa di hadapan Allah setelah memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad baru utarakan permintaan dan permohonan kepada Allah SWT, sembari menunduk dan jangan menghadap ke selesai berdoa usaplah wajah dengan dua telapak saat membentangkan kedua telapak tangan, hendaklah batin telapak tangan menghadap ke atas, seperti halnya orang meminta. Dalam hadits disebutkan, “Mintalah dengan batin telapak tangan” HR Abu Dawud, maksudnya adalah berdoa dengan batin telapak tangan ke atas sebagai simbol yang berharap dan memohon. Tapi kalau menolak simbolnya adalah punggung telapak tangan yang menghadap ke dalam Faidhul Qadir mengatakan, kalau doa yang berisi harapan dan permohonan, batin telapak tangan menghadap ke atas. Tapi kalau isi doa mengandung penolakan terhadap bencana dan sesuatu yang buruk lainnya, dianjurkan membalik telapak tangan punggung tangan menghadap ke atas. Wallahu a’lam.Ustadz Hengki Ferdiansyah Lc. MA.
Pertanyaan Apa syarat berdoa agar doanya dikabulkan dan diterima di sisi Allah? Teks Jawaban berdoa banyak, di antaranya 1. Tidak berdoa kecuali kepada Allah Azza Wajalla. Nabi sallallahu aliahi wa sallam mengatakan kepada Ibnu Abbas, “Jika engkau meminta, maka memintalah kepada Allah. Kalau engkau meminta bantuan, mintalah bantuan kepada Allah.” Dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih Al-Jami’, no. 2516. HR. Tirmizi Dan ini makna dari firman Allah Ta’ala وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُو مَعَ اللَّهِ أَحَداً سورة الجـن 18 “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping menyembah Allah.” QS. Jin 18 Syarat ini termasuk syarat doa yang paling agung. Tanpanya tidak akan diterima doa dan tidak akan diangkat amalannya. Diantara manusia –ada yang berdoa kepada mayit dan menjadikannya sebagai perantara antara mereka dengan Allah. Mereka menyangka bahwa orang-orang sholeh dapat mendekatkan kepada Allah dan sebagai wasitah perantara mereka disisi Allah Subhanah. Mereka merasa berdosa dan tidak ada kedudukan di sisi Allah. Oleh karena itu mereka menjadikan perantara dengan berdoa kepada mereka selain Allah. Sementara Allah subhana Wata’ala berfirman وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ سورة البقرة 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” QS. Al-Baqarah 186 2. Bertawasul kepada Allah dengan salah satu macam tawasaul yang diperbolehkan. 3. Tidak tergesa-gesa. Karena ia termasuk kekeliruan dalam berdoa yang menghalangi terkabulnya doa. Disebutkan dalam hadits يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ اللَّهَ، فَلَمْ يَسْتَجِبْ لِي رواه البخاري، رقم 6340 ومسلم، رقم 2735 “Dikabulkan salah seorang diantara kalian doanya selagi tidak tergesa-gesa. Seraya dia mengatakan, “Saya telah berdoa dan belum dikabulkan untukku.” HR. Bukhori, no. 6340 dan Muslim, no. 2735. Dalam Shahih Muslim, no. 2736 لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ , مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ "، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟، قَالَ " يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ , فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي , فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ " “Doa seorang hamba senantiasa terkabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa, memutus kekerabatan dan selagi tidak tergesa-gesa.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah apa tergesa-gesa itu?” Beliau menjawab, “Dia berkata, aku sudah berdoa, aku sudah berdoa tapi aku tidak melihat dikabulkan sehingga dia merasa kecewa akan hal itu lalu dia meninggalkan doa.” 4. Berdoa bukan untuk dosa dan memutus kekerabatan sebagaimana hadits tadi. “Doa seorang hamba akan dikabulkan selagi tidak berdoa untuk dosa dan memutus silaturrahim. 5. Berbaik sangka kepada Allah. Rasulullah saw bersabda, “Allah Taala berfirman, “Aku tergantung persangkaan hambaKu kepadaKu.” HR. Bukhari, no. 7405, Muslim, no. 4675 Juga disebutkan dalam hadits Abu Hurairah, ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ رواه الترمذي , وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245 “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin bahwa doa kalian akan dikabulkan.” HR. Tirmizi, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245 Siapa yang bersangka baik kepada Allah, maka Allah akan balas dengan kebaikan yang banyak, akan ditebar kepadanya berbagai karuniaNya. 6. Hadirnya hati. Hendaknya orang yang berdoa menghadirkan hati dan merasakan keagungan siapa yang dia berdoa kepadanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ لَاهٍ رواه الترمذي، رقم 3479 وحسنه الألباني في صحيح الجامع، رقم 245 “Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” HR. Tirmizi, no. 3479, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 245 7. Mengkonsumsi yang halal. Allah Taala berfirman, إنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ سورة المائدة 27 “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” QS. Al-Maidah 27 Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa doa tertolak bagi orang yang makan dan minum serta memakai barang yang haram. Disebutkan dalam hadits bahwa beliau menyebutkan seseorang yang sehabis menempuh safar, kusut dan dekil, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit dan mengucapkan, ya rabbi ya rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan tumbuh dari barang haram, bagaimana doanya diterima?! HR. Muslim, no. 1015 Ibnu Qayim berkata, “Demikian pula memakan makanan haram, menghilangkan kekuatannya kekuatan doa dan melemahkannya.” 8. Hindari doa yang melampaui batas. Allah Taala tidak menyukai sikap melampuai batas dalam berdoa. Allah Taala berfirman, ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ سورة الأعراف 55 “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” QS. Al-A’raf 55 Perhatikan soal no. 41017 9. Jangan sibuk berdoa sehingga meninggalkan kewajiban, seperti meninggalkan kewajiban yang saat itu harus dilakukan atau meninggalkan hak-hak yang saat itu harus ditunaikan, seperti meninggalkan hak orang tua dengan alasan berdoa. Kisah Juraij orang yang ahli ibadah memberikan isyarat akan hal itu, karena dia mengabaikan panggilan ibunya dan melanjutkan shalatnya, sehingga dia meninggalkannya, akhirnya Allah mengujinya. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Para ulama berkata, Ini merupakan dalil bahwa yang benar baginya ketika itu adalah memenuhi panggilan ibunya, karena saat itu dia sedang shalat sunah, melanjutknnya adalah sunah, tidak wajib, sementara memenuhi panggilan ibunya dan berbakti kepadanya merupakan kewajiban dan durhaka kepadanya adalah haram.” Shahih Muslim, Syarah An-Nawawi, 16/82 Sebagai tambahan, hendaknya dilihat kitab Ad-Du’a’ Muhamad bin Ibrahim Al-Hamad. Wallahua’lam.
JAKARTA - Oleh Ahmad Habibi Syahid Ud’uni astajib lakum, berdoalah maka niscaya akan Aku kabulkan. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah al-Mu'min ayat 60 di atas mengisyaratkan kepada manusia untuk selalu menyandarkan sesuatu perkara hanya kepada Allah. Manusia pada hakikatnya adalah satu-satunya makhluk yang Allah berikan akal untuk berpikir dan berusaha. Akan tetapi, di balik kemampuan itu, tentunya ada kekuasaan SAW dalam sabdanya menyatakan, tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah kecuali doa. “Laisa syaiun akroma ala Allahi Ta’ala min ad-du’au.” HR Tarmidzi.Jika ibadah digambarkan ke dalam struktur tubuh manusia maka doa merupakan bagian otaknya ibadah. Doa berperan merencanakan, memulai, dan mengevaluasi. Saat seseorang hendak melakukan pekerjaan dengan berdoa, berarti dia sedang merencanakan sesuatu. Hal ini juga serupa jika doa diibaratkan dengan sebuah pekerjaan yang mendapatkan imbalan. Seseorang yang melakukan pekerjaan pada sebuah perusahaan tentunya akan mendapatkan imbalan atas pekerjaannya. Orang yang berdoa pun akan mendapatkan imbalan, baik imbalan pahala atas apa yang dikerjakan ataupun imbalan berupa terkabulnya doa. Kesimpulannya, doa merupakan bagian dari ibadah. Makin banyak doa dipanjatkan maka makin banyak imbalan atau pahala yang akan didapatkan. Lebih dahsyatnya, dari keutamaan berdoa bagi kehidupan manusia adalah menolak qadar. Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya yang diriwayatkan Ibnu Majah bahwa tidak dapat menolak qadar kecuali dengan doa, “wa la yaruddu al-qadar illa ad-du’a.” HR Ibnu Majah. Ada pun hikmah yang dapat diambil dari amalan ibadah dengan berdoa banyak sekali di antara hikmah yang paling utama dari berdoa adalah dekat dengan Allah. Berdoa didefinisikan sebagai satu amalan ibadah dengan tujuan berzikir kepada Allah mengingat Allah. Mengingat Allah dengan memperbanyak amalan ibadah melalui doa adalah cara terbaik. “Maka, sesungguhnya Aku adalah dekat.” definisi dekat dikorelasikan dengan bagaimana seorang hamba mau berdoa, meminta, dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemberi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena sesungguhnya Allah itu menjelaskan dalam firman-Nya bahwa orang-orang yang taat melakukan ibadah senantiasa mengadakan pendekatan kepada Allah dengan memanjatkan doa yang disertai keikhlasan hati yang mendalam. Tentunya, doa yang terkabul adalah doa yang disertai dengan keikhlasan hati serta bersifat kontinu. Hal ini banyak ditegaskan dalam ayat Alquran, di antaranya, “Berdoalah kepada Tuhan-mu dengan berendah diri tadharu’ dan suara yang lembut. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan, janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut akan tidak diterima dan penuh harapan untuk dikabulkan. Sesungguhnya, rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” QS al-Ar’af 55-56. Wallahu a'lambishawab.
BERDO’ALAH KEPADA-KU NISCAYA AKU AKAN KABULKAN!Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MABerdo’a dan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla adalah sifat hamba-hamba-Nya yang shalih dan dengannya mereka dipuji dalam banyak ayat al-Qur’ Azza wa Jalla berfirmanإِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَSesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka selalu berdo’a kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ dalam beribadah [Al-Anbiyâ’/21 90].Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla memuji hamba-hamba-Nya yang shalih dalam firman-Nyaتَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَLambung mereka jauh dari tempat tidurnya karena mereka selalu mengerjakan ibadah dan shalat ketika manusia sedang tertidur di malam hari, sedang mereka berdo’a kepada Allâh dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka [As-Sajdah/3216].Allâh Azza wa Jalla juga berfirman tentang sifat-sifat Ibadur Rahman hamba-hamba Allâh Azza wa Jalla yang MahaPemurahوَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا ﴿٦٤﴾ وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًاDan mereka adalah orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan beribadah kepada Rabb mereka Allâh Azza wa Jalla . Dan mereka berdo’a Ya Rabb kami, jauhkan kami dari azab neraka Jahannam, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal [Al-Furqân/2564-65].Mereka selalu berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla karena mereka mengetahui dan meyakini bahwa semua kebaikan dunia dan akhirat ada di tangan-Nya, semua kebutuhan manusia hanya Dia-lah yang maha kuasa memenuhinya, serta semua keburukan yang ditakutkan menimpa mereka hanya Dia Azza wa Jalla yang maha mampu mencegahnya. Maka dengan keyakinan ini, mereka selalu berdo’a dan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla di semua waktu dan keadaan, karena kunci untuk membuka pintu-pintu kebaikan yang ada di tangan Allâh Azza wa Jalla adalah dengan sungguh-sungguh memohon dan meminta Mutharrif bin Abdillâh bin asy-Syikhkhîr rahimahullah berkata “Aku mengingat-ingat apakah penghimpun segala kebaikan, karena kebaikan itu banyak; puasa, shalat dan lain-lain. Semua kebaikan itu ada di tangan Allâh Azza wa Jalla , maka jika kamu tidak mampu memiliki apa yang ada di tangan Allâh Azza wa Jalla kecuali dengan memohon kepada-Nya agar Dia memberikan semua itu kepadamu, maka berarti penghimpun semua kebaikan adalah berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla ” [1].Senada dengan ucapan di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya berdo’a kepada Allâh adalah kunci pembuka segala kebaikan” [2].AGUNGNYA KEDUDUKAN DO’AKedudukan do’a dalam Islam sangat agung, keutamaannya sangat besar dan kemuliaannya sangat tinggi, karena do’a merupakan ibadah yang paling agung dan ketaatan yang paling tinggi. Oleh karena itu, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam yang menjelaskan kedudukannya yang agung dan tinggi, serta keutamaan yang besar bagi orang yang selalu mengerjakannya [3].Allâh Azza wa Jalla berfirmanوَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَDan Rabbmu berfirman“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku berdo’a kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina [Al-Mu’min/Ghafir/40 60].Dalam sebuah hadits yang shahih, dari an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Berdo’a adalah ibadah”, lalu Beliau Shallallahu alaihi wa sallam membaca ayat di atas [4]. Maka maksud ibadah dalam ayat di atas adalah berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla .Ayat yang mulia ini menunjukkan agungnya karunia dan rahmat Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, karena Dia Azza wa Jalla memotivasi mereka untuk selalu berdo’a kepada-Nya, yang itu merupakan kunci kebaikan diri mereka di dunia dan akhirat, dan Dia Azza wa Jalla menjanjikan pengabulan do’a di akhir ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memberikan ancaman keras bagi orang yang menyombongkan diri dan berpaling dari berdo’a kepada-Nya[5]. Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam , Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allâh maka Dia akan murka kepadanya [6].Kalau kita renungkan dengan seksama ayat yang mulia ini, kita akan dapati isyarat makna agung sehubungan dengan mulianya kedudukan berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla , yaitu bahwa orang yang paling dicintai Allâh Azza wa Jalla adalah orang selalu berdo’a dan memohon kepada-Nya, sebagaimana orang yang enggan berdo’a kepada-Nya maka dialah yang paling dibenci dan ini yang diungkapkan oleh Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah dalam ucapan beliau, “Wahai Dzat yang menjadikan hamba yang paling dicintai-Nya adalah yang berdo’a dan banyak memohon kepada-Nya. Wahai Dzat yang menjadikan hamba yang paling dibenci-Nya adalah hamba yang tidak mau berdo’a kepada-Nya. Tidak ada satupun yang bersifat seperti itu selain-Mu, wahai Rabb-ku” [7].Oleh karena itu, taufik dari Allâh Azza wa Jalla yang merupakan sebab utama tercurahnya semua kebaikan dunia dan akhirat bagi seorang hamba, kunci utama untuk mendapatkannya adalah berdo’a dengan sungguh-sungguh dan memperlihatkan rasa butuh yang sangat kepada Allâh Azza wa Jalla .Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kalau semua kebaikan asalnya dengan taufik yang itu adanya di tangan Allâh semata dan bukan di tangan manusia, maka kunci untuk membuka pintu taufik adalah selalu berdo’a, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, selalu berharap dan takut kepada-Nya. Maka ketika Allâh telah memberikan kunci taufik ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan pintu taufik kepadanya. Dan ketika Allâh memalingkan kunci taufik ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan taufik akan selalu tertutup baginya” [8].Bahkan lebih dari itu, berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla dengan merendahkan diri dan menampakkan rasa butuh kepada-Nya merupakan wujud al-ubudiyah penghambaan diri seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla, sekaligus merupakan pengakuan terhadap agungnya sifat rububiyah Allâh menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya serta sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allâh memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berdo’a dan memohon kepada-Nya untuk menampakkan kedudukan al-ubudiyah penghambaan diri, kebutuhan dan ketergantungan hamba tersebut kepada Allâh Azza wa Jalla , serta dalam rangka pengakuan agungnya sifat rububiyah menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya, sempurna kemahakayaan dan kemahaesaan-Nya dalam melimpahkan karunia dan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya, dan bahwa sungguh seorang hamba tidak akan bisa terlepas dari kebutuhan kepada limpahan karunia-Nya meskipun hanya sekejap mata” [9].Maka berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla dengan memperlihatkan ketundukkan dan ketergantungan kepada-Nya adalah sebab perhatian dan pemuliaan Allâh Azza wa Jalla kepada hamba-hamba-Nya [10], sebagaimana dalam firman-Nyaقُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًاKatakanlah “Rabbku tidak mengindahkan kamu, kalau kamu tidak berdo’a dan beribadah kepada-Nya. Tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya, padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak azab pasti menimpamu [Al-Furqân/2577].Dalam hadits-hadits lain, Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang agungnya kedudukan do’aDari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seutama-utama ibadah adalah berdo’a”[11].Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia bagi Allâh daripada do’a” [12].Semua dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa do’a adalah ibadah yang paling utama, bahkan merupakan asas dan ruh ibadah. Hal ini disebabkan adanya beberapa keistimewaan yang terdapat di dalam do’a, di antaranya1. Sesungguhnya di dalam do’a terdapat sikap merendahkan diri, memperlihatkan kebutuhan dan ketergantungan kepada Allâh Azza wa Jalla .2. Sesungguhnya ibadah akan semakin sempurna dan tinggi keutamaannya ketika hati semakin khusyu’ dan pikiran semakin fokus, sedangkan do’a merupakan ibadah yang paling dekat untuk meraih tujuan agung ini, karena kebutuhan dan ketergantungan seorang hamba akan menjadikan hatinya lebih khusyu’ dan Sesungguhnya do’a mengandung konsekuensi sifat tawakal penyandaran hati yang benar kepada Allâh Azza wa Jalla untuk meraih kebaikan dan mencegah keburukan dan memohon pertolongan kepada Allâh Azza wa Jalla , yang keduanya merupakan ruh ibadah dan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla [13].MAKNA DO’A DAN MACAMNYASecara bahasa, do’a berarti mencondongkan memalingkan sesuatu kepadamu dengan suara dan ucapan darimu [14].Adapun secara syar’i, berdoa adalah bermunajat berucap dengan suara yang pelan kepada Allâh Azza wa Jalla dengan menyeru-Nya untuk memohon sesuatu kebaikan dan menolak sesuatu keburukan [15].Atau makna yang lebih lengkap menyeru kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ucapan yang mengandung permohonan dan sanjungan kepada-Nya dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna [16].Para Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah membagi do’a menjadi 2 macam [17]1. Do’a permohonan, inilah macam do’a yang sedang kita bahas dalam tulisan Do’a ibadah dan sanjungan, yang ini meliputi semua jenis ibadah yang disyariatkan dalam Islam, lahir dan batin. Misalnya shalat, puasa, berdzikir, berkurban, takut, berharap, bertawakal, mencintai dan ibadah-ibadah lainnya [18].Dalam hadits shahih yang telah kami sebutkan di atas, Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berdo’a adalah ibadah” [19]Hadits ini menunjukkan bahwa do’a adalah ibadah agung yang merupakan hak Allâh Azza wa Jalla yang murni, dan ini mencakup dua macam do’a yang disebut di atas. Maka memalingkan ibadah ini kepada selain Allâh Azza wa Jalla atau menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk di dalamnya adalah termasuk perbuatan syirik besar yang menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam yang mulia ini, na’uudzu billahi min Azza wa Jalla berfirmanوَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَPadahal mereka tidak diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah Ilah sembahan yang benar, Allâh Yang Maha Esa; tidak ada Ilah sembahan yang benar selain Dia. Maha suci Allâh dari apa yang mereka persekutukan [At-Taubah/931].Dalam ayat lain, Dia Azza wa Jalla juga berfirmanقُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًاKatakanlah “Sesungguhnya aku hanya berdo’a beribadah kepada Rabb-ku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya [Al-Jinn/7220].Dan ayat-ayat lain dalam al-Qur’an yang menjelaskan larangan keras memalingkan do’a kepada selain Allâh Azza wa Jalla atau menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk di dalamnya. Ayat-ayat tersebut sangat banyak dan beragam kandungannya, untuk menggambarkan besarnya keburukan perbuatan syirik ini dan sangat kerasnya ancaman bagi yang melakukannya, wal’iyaadzu billah. Sampai-sampai salah seorang Ulama Ahlus Sunnah berkata, “Kita tidak mengetahui jenis kekufuran dan kemurtadan yang disebutkan dalam dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits Rasûlullâh Shallallahu alaihi wa sallam seperti keburukan yang disebutkan dalam dalil-dalil tersebut tentang berdo’a kepada selain Allâh, berupa larangan yang keras dari perbuatan tersebut, peringatan untuk menjauhinya, dan ancaman keras bagi yang melakukannya” [20].[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1438H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] _______ Footnote [1] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab “az-Zuhd” no. 1346. [2] Kitab “Majmuu’ul fata-wa” 10/661. [3] Lihat penjelasan Syaikh Abdur Razzaq al-Badr dalam kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkâr” 2/7. [4] HR Abu Dawud no. 1479, at-Tirmidzi 5/211, Ibnu Majah no. 3828 dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani. [5] Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” 4/109 dan “Taisîrul Karîmir Rahmân” hlm. 740. [6] HR at-Tirmidzi no. 3373 dan al-Hakim 1/667, dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani. [7] Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau 4/109. [8] Kitab “Al Fawa-id” hlm. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H. [9] Kitab “Madârijus sâlikîn” 3/102. [10] Lihat kitab “Taisîrul Karîmir Rahmân” hal. 587. [11] HR. Al-Hakim 1/667, dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab “Silsilatul ahâ-dîtsidh dha’îfati wal maudhû’ah” no. 1579. [12] HR. At-Tirmidzi 5/455, Ahmad 2/362, Ibnu Hibban 3/151 dan al-Hakim 1/666, dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim, serta dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani. [13] Lihat kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkâr” 2/13. [14] Kitab “Mu’jamu maqa-yîsil lugah” 2/228. [15] Lihat keterangan Imam Abu Hayyan al-Andalûsi dalam kitab tafsir beliau “al-Bahrul muhîth” 5/361. [16] Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmû’ul fatâwa” 15/19 dan Imam Ibnul Qayyim dalam “Bada-i’ul fawa-id” 3/521. [17] Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmû’ul fatâwa” 10/258, Imam Ibnul Qayyim dalam “Jalâul afhâm” hlmn. 155 dan Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di dalam “Taisîrul Karîmir Rahmân” hlmn 87. [18] Lihat keterangan Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di dalam “Taisîrul Karîmir Rahmân” hlmn 257 dan 415. [19] HR Abu Dawud no. 1479, at-Tirmidzi 5/211, Ibnu Majah no. 3828 dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani. [20] Lihat kitab “Fiqhul Ad’iyati Wal Adzkâr” 2/39-40. Home /A7. Adab Do'a dan.../Berdo’alah Kepada-Ku Niscaya Akan...
berdoalah maka akan aku kabulkan